Pandangan Kristiani terhadap Penataan untuk Pembelajaran: a reference for class management

Pandangan Kristiani terhadap Penataan untuk Pembelajaran
Mengajar adalah menciptakan ruang dimana ketaatan atas kebenaran dipraktekkan (Palmer,1993). Pembelajaran bertujuan untuk memperlengkapi siswa dengan berbagai keterampilan, sebagai sebuah persiapan untuk menjalani hidup di masa depan. Untuk mencapai tujuan ini, guru harus memastikan bahwa proses pembelajaran dapat berfungsi dengan baik. Salah satu hal penting yang dapat dilakukan adalah menata pembelajaran sesuai dengan pandangan Kristiani.
            Guru Kristen memiliki tanggung jawab penuh untuk menata pembelajaran yang sesuai dengan pandangan Alkitab sehingga kelas menjadi komunitas Kristus. Dalam komunitas ini, guru harus menekankan bahwa setiap siswa memiliki peran dan tanggung jawab yang sangat signifikan dalam menciptakan kelas yang berkenan di hadapan Tuhan. Walaupun ada banyak perbedaan di antara para siswa, tetapi mereka adalah satu di dalam Tuhan. Hal ini akan memastikan bahwa tidak ada siswa yang merasa terabaikan dan siap untuk mengembangkan talentanya untuk kemuliaan Tuhan. Setiap siswa juga harus saling membangun serta memperlengkapi satu dengan yang lain (1 Korintus 12:12-31). Sebagai contoh, siswa yang pintar dalam hal akademik tidak boleh merendahkan temannya yang kurang pintar, karena mereka pasti memiliki talenta lain.
 Selain itu, guru harus memimpin dan menuntun siswa dengan cara yang benar. Guru perlu menetapkan peraturan sebagai sebuah usaha untuk memastikan bahwa siswa tetap terus berjuang melawan dosa. Dalam menjalankan peraturan ini, Guru harus percaya diri dan tegas, tetapi menghindari sifat yang agresif dan argumentatif. Ketegasan seorang guru tentunya  perlu disertai dengan penciptaan atmosfir belajar yang penuh keterbukaan, kepedulian, dan kehangatan.
            Ketika siswa melanggar peraturan dan memicu terjadinya kekacauan didalam kelas, bencilah kesalahannya dan bukan orangnya. Sebaliknya, usahakan pengampunan dan jauhkan dendam dengan mengekspresikan kasih dan kepedulian kepada semua siswa sama seperti Tuhan yang mengajar orang yang dikasihinya (Amsal 3:12). Guru juga harus mengoreksi kesalahan siswa dan menyatakan ketidaksetujuan akan hal ini. Setelah itu, tuntunlah siswa untuk merefleksikan kembali permasalahan yang dihadapi, mencari solusinya, serta menjalankan komitmen untuk memperbaharui diri. Sebagai contoh, ketika siswa mencuri barang milik temannya, jangan langsung menghakimi mereka, tetapi tuntun mereka untuk menyadari bahwa mencuri adalah hal yang salah sehingga ia tidak boleh melakukannya lagi.
            Guru Kristen juga harus melaksanakan disiplin pemuridan bagi siswa agar mereka menjadi murid Tuhan. Sebab, Tuhan memberikan wewenang untuk melayani siswa dan memampukkan mereka menjadi murid Yesus yang responsif (Knight, 2009 hal.65).  Hal ini berarti bahwa guru tidak hanya melakukan pendisiplinan untuk menerapkan kekuasaan atas siswa, tetapi memberikan pengertian dan hikmat akan cara hidup (Amsal 3:12-13). Diatas semua itu, mintalah pertolongan Roh Kudus untuk melunakkan hati mereka dan mengerjakan perubahan di dalam hati mereka.
Dengan mengetahui kebenaran ini, saya menyadari betul bahwa merencanakan penataan kelas tidaklah mudah. Berbagai tantangan yang timbul dari keragaman sifat dan latar belakang murid mungkin saja akan menyebabkan kekacauan, konflik dan gesekan dalam kelas. Akan tetapi saya akan tetap menjalankan tugas ini sesuai dengan pandangan Alkitab. Siswa saya adalah manusia yang telah jatuh ke dalam dosa, oleh karena itu saya perlu menetapkan peraturan untuk membantu mereka melawan dosa, menjalankannya secara konsisten, serta melakukan disiplin pemuridan untuk menuntun setiap siswanya untuk menaati Tuhan sebagai kebenaran yang absolut setiap saat. Saya juga akan melatih diri saya untuk tetap tegas, mengasihi, dan berdoa bagi orang-orang disekitarku.
Referensi
Van Brummulen, H.2009. Berjalan Bersama Tuhan di dalam Kelas: Pendekatan Kristiani untuk Pembelajaran. Jakarta: Universitas Pelita Harapan Press
Palmer, P.1993. To Know as we are Known: A Spiritually of Educaton. San Fransisca: Haper and Row

Setiawani, Mery, dan Stephen Tong. 2005. Seni Membentuk Karakter Kristen. Surabaya: Momentum.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen Keluarga

Learning Method: Concept Map

Nenek Rohaya (Kritik Sosial berlatar budaya Batak)