MAKALAH FILSAFAT PENDIDIKAN: ANTROPOLOGI
FILSAFAT PENDIDIKAN PRIBADI
ANTROPOLOGI
PENDAHULUAN
Salah satu hal pokok yang mendominasi wawasan dunia yaitu
antropologi atau studi tentang manusia. Antropologi merupakan salah satu cabang dari filsafat metafisika
yakni cabang filsafat yang
mempelajari sifat-sifat dari hakekat. “Apa yang benar-benar
nyata?” adalah pertanyaan mendasar yang dipertanyakan dalam studi ini (Knight,
2009).
Istilah
antropologi berasal dari kata Yunani yaitu anthropos
yang berarti manusia dan logos yang
berarti ilmu atau teori. Jadi secara harafiah antropologi dapat diartikan
sebagai ilmu tentang manusia. Para ahli antropologi sering mengemukakan bahwa
antropologi merupkan studi tentangumat manusia yang berusaha menyusun
generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya, dan untuk
memperoleh pengertian ataupun pemahaman yanglengkap tentang keanekaragaman
manusia. Lebih dalam lagi, antropologi adalah yang mengkaji tentang status
moral dan kemanusiaan, sifat dasar, kehendak bebas dan juga jiwa manusia.
Keempat hal ini lah yang akan saya bahas dalam filsafat pribadi ini.
Saya
mengangkat topik antropologi karena aspek inilah yang paling saya gumulkan,
karena mempelajari diri saya sendiri dan orang-orang disekitar saya. Sebagai
calon guru Kristen, aspek ini benar-benar harus saya pahami secara mendalam dan
juga didasarkan atas titik acuan yang benar, karena sangat mempengaruhi cara
saya menempatkan diri dan juga memperlakukan murid saya. D. Elton Trueblood
bahkan menekankan bahwa “sebelum kita tahu persis tentang apakah manusia itu,
kita tidak tahu persis apapun juga.” (Knight, 2009). Hal ini berarti bahwa
sebelum saya mengenal siswa saya dengan benar, maka tidak mungkin saya mampu
mengajar mereka dengan cara yang tepat. Oleh karena itu, saya berharap agar filsafat
ini dapat membantu saya dalam mengenal murid
saya nantinya dan melakukan praktik pendidikan yang sesuai dengan Firman Allah.
ISI
Manusia adalah salah satu dari jutaan makhluk
yang hidup di bumi yang memegang peranan yang paling penting dalam proses
kehidupan. Oleh karena itu, banyak studi dan penelitian yang dilakukan oleh
manusia untuk mengetahui hakikat dari dirinya sendiri sebagai seorang manusia.
Salah satu teori yang sangat terkenal adalah teori evolusi Darwin yang muncul
pada abad ke-19. Menurut teori itu, bentuk hidup tertua di muka bumi ini adalah
makhluk-makhluk bersel satu yang disebut protozoa. Dalam jangka waktu beratus-ratus
juta tahun lamanya, timbul dan berkembang bentuk-bentuk hidup berupa
makhluk-makhluk dengan organisme yang makin lama makin kompleks, dan dalam
waktu terakhir ini telah berkembang dan berevolusi makhluk-makhluk seperti kera
dan manusia(Koentjaraningrat,2009).
Jika
di tinjau dari sudut pandang Alkitab, teori ini sangat tidak tepat. Karena di
dalam Kejadian 2:6 jelas dikatakan bahwa manusia adalah ciptaan Allah pada hari
ke-6 yang tidak melalui proses apapun untuk mejadi seorang manusia kecuali
pembentukan oleh tangan Tuhan dan penghembusan nafas kehidupan. Oleh karena
proses in pulalah, maka manusia memiliki dua unsur yakni tubuh dan jiwa atau
roh. Tubuh adalah fisik manusia yang terbentuk saat Allah membentuknya dari
tanah, sementara jiwa manusia itu terbentuk pada saat Allah menghembuskan nafas
kehidupan. Jadi tidaklah salah jika jiwa atau roh diartikan sebagai sesuatu
yang ditambahkan pada tubuh sehingga tubuh itu menjadi hidup.
Lagi pula, Allah menciptakan manusia segambar
dan serupa dengan Allah (Kejadian1:26-27) yang membuktikan bahwa manusia tidak
mungkin berasal dari makhluk yang lebih rendah dan mengalami proses yang
sedemikian panjang. Sebab pada saat Allah menciptakan manusia segambar
dengan-Nya, saat itu juga Tuhan memberikan akal budi, kehendak bebas, otoritas
dan pikiran kepada manusia sehingga manusia dapat memuliakan Allah lewat
kehidupannya. Sementara saya sadar bahwa makhluk lain selain manusia tidak
memiliki hal-hal tersebut. Hal lain yang menjadi pertimbangan bahwa teori
evolusi Darwin tidak dapat diterima adalah arah dari proses penciptaan manusia
itu sendiri. Menurut teori evolusi, perubahan yang ada menunjukkan bahwa
kehidupan berproses menuju penyempurnaan (dari protozoa menjadi manusia), akan
tetapi Alkitab mencatat hal yang berbeda yakni bahwa manusia pada awalnya
adalah tidak bercacat dan kemudian jatuh ke dalam dosa. Bahkan jelas dikatakan
bahwa manusia adalah pewaris dari sifat Ilahi yang lebih dari sekedar makhluk
berkaki dua yang sangat maju. Manusia
pada penciptaan digambarkan sebagai makhluk yang penuh dengan kasih, kebaikan,
rasa tanggung jawab, rasionalitas, dan kebenaran (Knight, 2009).
Akan tetapi, sifat-sifat Ilahi yang
diwarisi oleh manusia ini tidak lagi bertahan secara sempurna hingga saat ini,
tetapi telah rusak sejak kejatuhan manusia ke dalam dosa. Jadi adalah sebuah
kesalahan fatal jika kita tetap beranggapan bahwa bayi dilahirkan dengan sifat
netral dan tidak berdosa, sehingga sering diibaratkan seperti selembar kertas
kosong yang belum mengerti apa-apa, karena dalam mazmur 51:12 jelas dikatakan
bahwa sejak dikandungan pun, manusia telah berdosa. Lebih lanjut paham ini
menjelaskan bahwa kehidupan yang dijalani manusialah yang akan mengisi lembaran
itu. Oleh karena itulah masyarakat secara umum dan keluarga secara khusus,
selalu berusaha memperlakukan bayi dan anak-anak dengan sebaik-baiknya,
seramah-ramahnya dan tidak memarahi mereka.
Pandangan
inilah yang pada akhirnya menjadi cikal
bakal pemikiran masyarakat bahwa setiap kesalahan anak harus ditoleransi
sedemikian rupa sehingga anak tersebut merasa nyaman dalam lingkungannya. Sebagai contohnya ketika seorang anak
melakukan tindakan yang salah seperti mencubit atau memukul orang lain atau
bahkan lebih fatalnya mencuri sesuatu, maka orang tua pada umumnya akan mentoleransi perilaku si anak dengan
mengatakan”Dia kan masih kecil, belum tau apa-apa”. Dengan pengondisian yang
sama dalam jangka waktu yang cukup lama, hal ini malah mendorong
pertumbuhan anak ke arah negatif yakni pada sikap yang manja, egois dan tidak
bertanggung jawab. Mungkin pada saat saya mengajar anak TK atau SD nantinya,
saya akan sering menghadapi permasalahan yang sama. Murid saya pasti akan pernah melakukan kesalahan,
akan tetapi saya tidak boleh membiarkan mereka melakukan kesalahan itu secara
bebas hanya karena faktor usia. Hal yang akan saya lakukan adalah menegur
mereka dengan kasih dan melatih mereka untuk mengikuti aturan.
Aspek
lain dalam antropologi yang sering menjadi bahan perenungan bagi saya adalah pemahaman
akan freewill atau kehendak bebas. Saya
dan orang-orang disekitar saya mungkin sering salah mengartikan kehendak bebas
ini. Sebagai contoh pada saat mata kuliah ST 2, kelasku dan saya sendiri
terjebak dalam statement bahwa
meskipun manusia bisa memilih, tetapi yang terjadi adalah kehendak Allah, jadi
kehendak bebas itu sudah tidak ada. Akan tetapi, Alkitab jelas mengatakan bahwa
Allah memberikan kebebasan kepada setiap manusia untuk menentukan pilihannya
dan caranya sendiri di dalam rencana Allah. Kehendak bebas ini tetap
sampai
sekarang walaupun manusia telah jatuh kedalam dosa. Oleh karena kita memiliki
Allah yang konsisten, maka keberdosaan sekalipun tidak membuat manusia
kehilangan kehendak bebasnya. Akan tetapi kehendak bebas yang kita miliki
sekarang ini memang sudah rusak, karena manusia lebih condong untuk
menggunakannya ke arah negatif.
Rusaknya kehendak bebas ini dapat
kita lihat dalam Kejadian 5:6-7 dimana Allah mengetahui bahwa kecenderungan
hati manusia adalah membuahkan keahatan. Menurut saya hal ini sangat lah benar
dan masih terjadi hingga saat ini. Sebagai contoh, ketika saya lapar, saya akan
lebih memilih untuk mengambil makanan teman kamar saya yang tergeletak di atas
meja dari pada menahan rasa lapar saya, walaupun saya tahu bahwa apa yang saya
lakukan itu salah.
Pemahaman
diatas telah mengendarai pemikiran saya sebagai seorang calon guru Kristen
tentang cara memperlakukan setiap murid dengan benar berdarkan prinsip Alkitab.
Kini saya menyadari sepenuhnya bahwa murid adalah God’s image bearer, yakni makhluk yang diciptakan segambar dan
serupa dengan-Nya. Oleh karena itu, perbedaan status antara saya sebagai guru
dan mereka sebagai siswa tidak akan menjadi alasan bagi saya untuk menjadi
sombong, karena sesungguhnya kedudukan seluruh manusia sama dihadapan Tuhan.
Oleh karena itu, kita harus memperlakukan mereka sebagaimana seharusnya image of God itu diperlakukan. Saya akan
berjuang untuk meghindari tindakan yang tidak tepat untuk dilakukan terhadap
murid saya nantinya, seperti kekerasan dalam sekolah seperti memukul, menendang
dan menampar mereka. Tugas saya adalah
mencintai mereka seperti saya mencintai diri saya sendiri dengan cara
mengusahkan pertumbuhan kasih dan damai sejahtera.
Hal
lain yang sekarang saya pahami sebagai guru Kristen adalah bahwa hal yang wajar
jika seorang murid melakukan kesalahan, karena mereka juga adalah manusia yang
telah jatuh ke dalam dosa, sama seperti saya. Ini menjadi alasan yang kuat bagi
saya, untuk tidak memandang rendah terhadap setiap murid yang melakukan
kesalahan, tetapi belajar untuk memaafkan mereka. Kesalahan fatal oleh siswa
bisa saja terjadi, akan tetapi kemarahan dan dendam bukanlah solusi yang tepat
untuk memperbaiki mereka. Sebaliknya, kita harus berdoa agar Tuhan yang bekerja
untuk mengubahkan dan melunakkan hati mereka yang keras.
Akan
tetapi, saya juga tidak boleh hanya melihat murid hanya dari segi keberdosaan
ini, sebab jika demikian maka yang terjadi adalah toleransi terhadap kesalahan
dan dosa secara terus-menerus yang tentu saja tidak sesuai dengan iman Kristen.
Hal lain yang perlu menjadi orientasi kita saat mengajar adalah bahwa Yesus
Kristus juga telah datang ke dunia yang hina ini, untuk melakukan sebuah karya
agung yakni penebusan umat manusia seperti yang dijelaskan pada Roma 5:12-21.
Jadi setiap manusia termasuk murid saya nantinya, telah memiliki lagi
kesempatan untuk tidak berbuat dosa, meskipun natur dosa itu sendiri tidak
pernah hilang sampai kedatangan Tuhan yang kedua kalinya. Mengingat akan hal ini, maka saya berkomitmen
untuk menjadi seorang Guru yang membawa setiap murid saya kepada Tuhan, berdoa
dan membantu mereformasi mereka, serta mengajarkan pengertian yang benar dari
perspektif iman Kristen
Langkah awal yang akan
saya lakukan nantinya sebagai bagian dari komitmen saya adalah dengan menyuguhkan peraturan yang tegas disertai dengan sangsi yang jelas
kepada siswa saya sebagai usaha untuk mengarahkan mereka melawan dosa. Akan
tetapi, hal ini tidak lah cukup, mengingat bahwa mereka mungkin saja akan
mematuhi peraturan dengan alasan takut dengan sangsi yang ada. Sebagai calon
guru Kristen tentu saja itu bukanlah tujuan akhir saya. Akan tetapi saya rindu
agar mereka mematuhi peraturan oleh karena kesadaran pribadi bahwa mereka telah
ditebus dan harus memiliki kerinduan pula untuk berjuang melawan dosa. Dengan
demikian suasana kelas saat saya mengajar tentu akan lebih kondusif, dan
pembelajaran bisa berlangsung dengan baik.
PENUTUP
Manusia
adalah makhluk yang diciptakan segambar dan serupa dengan Allah. Manusia pada
penciptaan digambarkan sebagai makhluk yang penuh dengan kasih, kebaikan, rasa tanggung
jawab, rasionalitas, dan kebenaran (Knight, 2009). Berbeda dengan ciptaan lain
yang diciptakan hanya dari Firman yang keluar dari mulut Allah, tetapi manusia
tercipta dari bentukan tangan Allah dari debu tanah, kemudian Allah
menghembuskan nafas kehidupan. Jadi kisah Alkitab yang menggambarkan manusia
pada awal penciptaan adalah sangat baik, sangat tidak relevan dengan teori
Charles Darwin yang mengatakan bahwa manusia berasal dari protozoa.
Manusia
adalah makhluk yang sudah jatuh ke dalam lubang dosa yang membuat relasinya
kepada Allah menjadi terputus. Sehingga kepercayaan masyarakat bahwa bayi
dilahirkan tanpa dosa adalah hal yang didak sesuai dengan prinsip iman Kristen.
Kejatuhan ini membuat berbagai
perubahan-perubahan yang signifikan dalam kehidupan manusia, contohnya manusia
tidak lagi menggunakan freewillnya seturut dengan kehendak Allah, tetapi lebih
condong ke arah sebaliknya yaitu perlawanan terhadap Firman Allah. Akan tetapi,
Allah telah mengirimkan Anak-Nya yang tunggal yaitu Yesus Kristus untuk menebus
dosa-dosa manusia dan merekonsiliasi hubungan antara manusia dengan Allah.
Kebenaran
tentang manusia berdasarkan Alkitab ini, seharusnya mengubahkan cara pandang manusia
dalam menilai dirinya dan juga sesamanya. Sebagai seorang guru Kristen,
seharusnya kita menghargai murid kita sepenuhnya, karena mereka juga adalah
gambar dan rupa Allah. Mereka mungkin saja melakukan kesalahan, karena mereka
juga telah jatuh dalam dosa. Oleh karena itu, seorang guru Kristen tidak boleh
menyimpan dendam terhadap muridnya, tetapi menuntun mereka pada jalan yang
benar yakni hidup berdasarkan Firman Allah.
REFERENSI
Danandjaja,
James. 1994. Antropologi Psikologi:
Teori, Metode dan Perkembangannya. Jakarta: PT Raja Grafindo
Knight,
G. 2009. Filsafat dan Pendidikan: Sebuah
Pendahuluan dari Perspektif Kristen. Jakarta: Universitas Pelita Harapan
Koentjaraningrat.
2009. Pengantar Ilmu Antropologi.
Jakarta: PT Rineka Cipta
Kottak,
Conrad Philip. 1997. Anthropology: The
Exploration of Human Diversity. United States: McGraw Hill
Muhadjir,
H Noeng. 2001. Filsafat Ilmu:
Positivisme, PostPositivisme, dan PostModernisme. Yogyakarta: Rake Sarasin
Tabor
Adelaide (compilation, 2006), 5141 Foundation
of Christian Education Unit Readers Part A-G. Jakarta, Ind.: UPH Press.
(Ind Version)
Tabor
Adelaide (compilation, 2006), 5141 Foundation
of Christian Education Unit Readers. Jakarta, Ind.: UPH Press. (Ind
Selection)
Van
Brummulen. 1998. Walking with God in the
Classroom: Christian Approaches to Learning & Teaching (2nd
ed). Seattle, Wa: Alta Vista Collage Press
http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/JUR._PEND._GEOGRAFI/197210242001121-BAGJA_WALUYA/PIS/Konsep_dasar_Antropologi.pdf
Note: Gua tau, lu yang baca ini adalah anak TC wkwkk. Semangat mengerjakan tugas adik2.. Love you
Note: Gua tau, lu yang baca ini adalah anak TC wkwkk. Semangat mengerjakan tugas adik2.. Love you
Komentar