Cerpen Keluarga

 Dari Putri Untuk Ayahnya yang Hilang
Aku tak mungkin ada tanpa ayah, tapi aku bisa hidup tanpa ayah, meskipun aku tidak benar-benar hidup. Jiwa dan semangatku terkubur bersama dengan hilangnya sosok ayah dalam hidupku. Memang sudah lama sekali, bahkan sebelum aku bisa mengatakan kepedihan dalam hatiku.
Ayahku adalah sosok seorang pemimpin yang mampu membuat keputusan besar, itulah sebabnya ia meninggalkanku. Ayahku adalah sosok yang berani, sehingga tanpa berpikir panjang ia pergi. Ayahku adalah sosok yang kuat, itulah sebabnya ia mampu hidup tanpaku. Tapi sayang, kurasa ia telah mati rasa. Ia tak lebih dari sebuah robot tangguh. Bisa melakukan segala sesuatu dengan sempurna, tapi tak dapat mengerti dirinya. Ia tak bisa jatuh cinta dan tak bisa menangis, tak bisa pula merindu.
Apa yang akan kukatakan ketika kekasih jiwaku bertanya dimana ayahku? Haruskah kujawab di rumah? Rumah keluarga kita yang selalu ada dalam mimpiku, tapi itu tak nyata. Haruskah kujawab dijalan? Jalan dunia yang mungkin membawamu pergi terlalu jauh dan tak bisa kujangkau. Haruskah kujawab kalau kau sudah mati? Hatiku tersayat bahkan saat aku baru memikirkannya dan mulutku terbungkam.
Ayah, aku tak sepenuhnya membencimu. Dalam mimpiku tadi malam, aku membuatkan secangkir kopi hangat untukmu, tapi kau tak menyentuhnya sama sekali. Ayah, inilah kerinduanku. Bisakah sebentar saja kau datang menemuiku? Aku menunggumu di beranda rumah kita, siang dan malam. Bisakah kau menggedongku Ayah? Aku melihat ayah temanku melakukannya. Ayah, maukah kau membawaku ke taman bunga? Maukah kau membelikanku sebuah boneka panda? Maukah kau mendorong ayunanku? Aku melihat ayah temanku melakukannya.
Dalam kelamnya malam, mataku tidak bisa terpejam. Aku tersenyum memikirkan bilamana penantianku akan hilang. Doaku kini berganti. Dulu, aku berharap bahwa engkau akan datang menemuiku dan menjelaskan kesalahpahaman yang menelan engkau begitu lama. Sekarang, aku berharap bahwa engkau akan tertelan untuk selama-lamanya. Lihatlah ayah, apa yang terjadi padaku. Akar pahit telah mengubah pikiran dan tingkah lakuku, tak ubahnya seperti setan-setan yang terus menggoda. Lihatlah ayah, namamu masih ada dalam benakku. Meskipun hanya seorang yang pernah berbagi DNA denganku, hanya sebagai orang asing, hanya sebagai musim yang telah diikutuk mati.
Ayah, usiaku tahun baru ini 19 tahun, tiga bulan lagi menjadi 20 tahun. Ayah, engkau berbagi pendek tubuhmu padaku. Ayah, engkau berbagi parasmu padaku, hidungku, mataku, pipiku bahkan rambutku. Aku benci itu. Itu yang kusesali dalam hidupku. Itu pula yang kusesali darimu.  
Ayah, ada satu tekad dalam diriku. Aku ingin cepat-cepat meraih gelar sarjana dan masterku. Aku ingin menemukan laki-laki yang tidak seperti ayah. Lelaki yang mengasihiku, lelaki yang bertanggung jawab, lelaki yang bisa kuandalkan dan lelaki yang akan tetap setia kepadaku meski musim kesengsaraan tiba. Aku ingin menunjukkan kepada ibuku bagaimana cara memilih lelaki yang baik, aku ingin menunjukkan kepadamu bahwa engkau sungguh tak layak, aku ingin menunjukkan kepada saudara laki-lakiku, bahwa ia tak boleh menjadi sama dengan engkau, aku ingin menunjukkan kepada dunia untuk membenci engkau dan generasi yang sama dengan engkau. Aku berjanji untuk itu.
Tapi ayah, tetap saja jantungku milikmu. Ia seperti berhenti berdetak saat aku melupakanmu. Tetap saja darahku milikmu, ia berhenti mengalir ketika ada benci dalam hatiku. Pulanglah ayah, kalau tidak aku bisa mati. Pulanglah ayah, sebelum aku tak ada. Pulanglah, kekasih jiwaku, jantung hatiku, pulanglah…….

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Learning Method: Concept Map

Nenek Rohaya (Kritik Sosial berlatar budaya Batak)