Dear Mantan



                               Dengan cinta yang kudus kepada Jurkando
Pria yang pernah singgah di hatiku

PART 1 Mengisi Masa Remajaku
          Aku tidak tahu kapan tepatnya kita saling mengenal dan menaruh rasa. Aku yakin kau juga tak bisa menjelaskannya, bukan? Hanya satu kenangan yang masih terekam dalam otakku tentang kamu di masa lampau. Kamu adalah pria yang duduk bersama gadis cantik bernama Susi sebelum pembekalan ekstrakurikuler dimulai. Aku sering melihat kalian bersama di pojok kanan kelas dan kamu terlihat bahagia.
          Sejak kapan aku mulai memperhatikanmu? Awalnya aku berpikir bahwa kamu tak berarti bagiku. Ada banyak hal yang menyita perhatianku, tak hanya buku, tulisan, bahkan ada beberapa pria lain yang memang menyatakan perasaannya padaku. Kamu hanya satu diantara sekian banyak hal dan rasanya kamu tidak cukup spesial untuk membuatku tergoda.
          Masih dalam tahun yang sama, ku rasa kau telah berubah haluan. Kamu sering datang ke kelasku dan mmenawarkan perhatian lebih pada ku. Aku tidak mau terlalu berlebihan dalam mengungkapkan caramu saat itu, tapi ku rasa aku punya bukti lain yang dapat menjadi saksiku. Sahabatku Natalia dan Rencana, mereka cukup tahu tentang kita di masa lampau.
Perhatian dan kedewasaanmu membuat hatiku luluh. Meskipun kadang aku tak benar-benar menganggapmu ada. Seringkali aku hanya mengingatmu di saat aku butuh teman bercerita, penghiburan, atau mengantarku pulang ke rumah. Kau tak lebih spesial dari itu. Tapi, waktu tak pernah diam sayang, dia berpihak pada mu. Waktu membuatku mengagumimu dan mengharapkan kehadiranmu sepenuhnya dalam hidupku. Aku benci itu, kau telah berhasil membuat ego dan kemandirianku patah, berganti hati yang begitu lemah dan haus akan kasih sayang.
Masihkah kau ingat ulang tahun Hotrolenta yang ke 17? Yang kumaksud bukan tentang dia, tapi tentang kita. Gerimis yang menyaksikan kemesraan kita berdua, juga Eni wanita yang kau sebut ito mu juga turut melihat hangatnya hatimu. Bagimu mungkin itu hanya satu musim yang mudah berganti, tapi bagiku seperti angin yang sebentar hilang lalu datang kembali, tak tahu kapan akan berhenti. Mungkinkah hadirnya mentari di siang hari bisa membuatnya berlalu? Ataukah rembulan yang indah di malam hari bisa menghancurkan kenangan ini? Hatiku tak yakin akan apa yang sedang kubicarakan saat ini.




Part 2: Waktu Berlalu
          Berapa lama waktu yang sudah kita habiskan bersama sayang? Kita menghabiskan waktu sebelum UN, kau menyemangatiku saat UN, lalu kita menjalani LDR setelahnya. Aku pernah membayangkan hidupku bersamamu di masa tuaku. Melodi indah akan melantun menghias malam kita, pelukanmu akan menjadi bagian yang kurasakan setiap waktu.
          Kekasihku, bagaimana dengan janjimu mengantarku berlibur ke LA? Aku masih menginginkannya hingga sekarang. Bermimpi akan menari di atas salju bersamamu. Berjanjilah untuk tidak pergi jika tidak bersama ku dan aku juga akan berjanji untuk itu.
          Setelah aku kuliah di TC, kau masih menjadi yang terbaik. Terima kasih untuk cinta dan pengorbananmu yang seakan tak mendapat balas dari ku. Aku memang  begitu, serasa dingin saat bertemu tapi hatiku bergelora penuh cinta. Terima kasih untuk sedikit waktu yang kita lalui bersama, terima kasih untuk kunjunganmu kesini, terima kasih untuk hadiah yang menggetarkan hatiku di hari ulang tahunku. Terima kasih untuk genggaman tangan pertama yang kurasakan saat mengantarmu pergi. Terima kasih kekasih hatiku.
          Dua tahun sejak lulus dari SMA, aku tak pernah jatuh cinta lagi. Memikirkannya pun aku tak sanggup. Belum ada yang sanggup menggantikanmu di hatiku. Dua tahun sejak kita memasuki kehidupan kampus, tak banyak yang berubah. Aku tak berhenti membawamu dalam doaku, tapi apakah kau juga melakukannya untukku? Kuharap kau tidak pernah melakukannya.

Part 3: Serius
       Banyak hari yang telah berlalu sia-sia karna aku tak bisa berhenti memikirkanmu. Aku kini memikirkan hal yang lebih jauh dari itu. Sudah cukup bagiku merasakan hari-hari yang sulit, aku mengharapkan hari yang penuh canda tawa, hari yang berwarna dan penuh humor. Aku ingin memiliki hidup yang dituntun, dimanja, diperhatikan setiap waktu. Aku haus akan kasih sayang dan kebersamaan yang ada setiap waktu, bukan di saat-saat tertentu.
          Kau tak sanggup melakukannya untukku. Tdiak peduli seberapa kuat aku memikirkannya, aku terus mendapatkanmu sebagai pria yang dingin. Tidak peduli seberapa kuat usahaku menenangkan hati yang mulai tak yakin padamu, tetapi aku mendapatkanmu sebagai pria yang sangat jarang menghubungiku. Bagaimana mungkin kau menyayangiku jika aku tak menjadi prioritas dalam pembagian waktumu? Bagaimana mungkin aku yakin padamu jika valentine saja kau tak menyapaku? Sandiwara apa ini?
          Memang benar, kau sudah menelepon Pesta sahabatku saat aku sakit dan menyuruhnya menjengukku. Tapi, pria lain melakukan hal yang lebih dari itu. Ada yang mengantarkan segelas susu hangat bagiku, ada yang menelepon dan menguatkanku, ada yang memberiku vitamin, dan bahkan ada yang menuliskan kata-kata motivasi untukku.  Apakah tindakanmu berarti bagiku?
          Aku berharap kau segera meneleponku secepat mungkin setelah membaca suratku ini, aku berharap kau berkata ‘Aku tak akan seperti itu lagi, aku akan menunjukkan cintaku lebih lagi’. Tapi, sudah terlambat bukan? Tidak ada lagi harapan yang tersisa. Cinta yang bergerola dalam hatiku, perlahan menjadi ombak yang berderu lambat, lalu menjadi tenang seakan tak pernah ada kenangan.
          Jika kau melihat mentari di pagi hari, ingatlah bahwa ia tak pernah hilang walau sudah ditelan malam. Jadilah seperti itu sayang, walaupun aku pernah tertanam dalam hatimu dan menyisakan kisah-kisah pahit, tetaplah kuat. Aku juga akan melakukannya, bukan lagi untuk cintaku padamu, tapi untuk hidupku di hari esok.
          Biarlah waktu menyatukan kita kembali nanti, saat kebahagian ada dalam pangkuan kita. Bukan kita berdua, tapi aku dengan pria yang mampu membuatku bahagia, kau dengan wanita yang lebih baik. Terima kasih untuk kenangan yang pernah ada. Tuhan bersamamu.








Selamat menjalani hari-harimu kekasih hatiku . . .
Pergi lah menjauh, sebelum aku tak bisa melepasmu lagi


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen Keluarga

Learning Method: Concept Map

Nenek Rohaya (Kritik Sosial berlatar budaya Batak)