Nenek Rohaya (Kritik Sosial berlatar budaya Batak)

Nenek Rohaya
(karya: Lentaria Lumban Toruan)

Hari minggu kali ini, penduduk Sianjur Mulamula gempar oleh kunjungan Pak Tamba ke gereja HKBP resort Limbong Sagala. Biasanya hanya beberapa jemaat saja yang menghadiri ibadah, itupun hanya ibu-ibu yang akan membaptiskan bayinya atau anak sekolah yang harus meminta bukti mengikuti kebaktian sebagai tugasnya di sekolah. Tapi kali ini karena pengkhotbah adalah Pak Tamba, calon anggota DPR yang kekayaannya tersiar di seluruh desa, maka seluruh kursi gereja penuh bahkan beberapa kursi sengaja dipinjam dari warung samping gereja. Memang beginilah keadaanya sekarang, semakin tinggi jabatan seseorang maka semakin kuatlah daya tariknya. Jika pendeta Haposan yang berkhotbah, tidak ada jemaat yang mendengarkan, dia dianggap seperti radio yang menyiarkan berita zaman purbakala yang tidak menarik sama sekali. Ibu-ibu biasanya keluar untuk menyusui bayinya, sementara anak-anak sekolah sibuk dengan HP buatan China yang kameranya buram dan ukurannya besar.
Ini adalah pertama kalinya pak Tamba berkhotbah di gereja ini. Meskipun bona pasogit [1] pak Tamba sebenarnya di Samosir, tapi baru kali ini lah ia menginjak kaki di Sianjur Mulamula. Sejak tersiar kabar bahwa ia mencalonkan diri sebagai DPR, keluarga pak Tamba menjadi amat baik hati. Mereka jauh-jauh datang dari Medan hanya untuk melayani di gereja ini.
Sepanjang khotbah, semua orang menyimak dengan sangat baik. Memang benar, nasihat yang sama kalau keluar dari mulut yang berbeda akan berbeda pula maknanya bagi masyarakat desa ini. Si miskin yang hanya hidup dengan marsinarea [2] bila berkata “manusia harus tolong menolong” tidak akan pernah didengarkan tapi kalau si kaya yang berkata demikian maka mengangguk-angguklah orang yang mendengarkannya.
“Jangan ada lagi di antara kita yang percaya takhayul atau dongeng nenek-nenek tua, semuanya tidak benar. Percayalah hanya kepada  kekuatan Tuhan!” kata Pak Tamba menutup Ibadah.
“Amin…..” sahut seluruh jemaat yang sedari tadi menganga.
Sebelum Pak Tamba turun dari mimbar, ia tersenyum sambil menatap sekilas ke setiap penjuru gereja. Ia membenarkan posisi dasinya sebentar, lalu minum air mineral yang sudah disediakan oleh gereja. Langkahnya menuruni mimbar diiringi dengan tepuk tangan dan decak kagum jemaat. Nenek Rohaya, seorang jemaat yang sudah berusia 89 tahun yang adalah satu-satunya jemaat yang tidak pernah absen ke gereja juga tidak kalah kagumnnya.
“Aku sudah 86, eh 89 tahun, entahlah berapa usiaku sekarang, tapi baru kali inilah hatiku tersentuh saat beribadah. Aku benar-benar tertegur, sebuah peluru penyembuhan menembus batinku sekarang.” Bisik nenek Rohaya kepada Hokkop, anak berusia 18 tahun yang tinggal bersamanya sejak menjadi yatim piatu dan sudah ia anggap sebagai cucunya.
            “Setelah ini, kita harus membuang napuran yang ompung[3] taruh di atas pintu rumah, yang ada di dompetku juga. Napuran[4] itu tak bisa menjagaku dari roh halus, begu ganjang [5]atau segala bentuk setan-setanan yang pernah nenek ceritakan.” Sahut  Hokkop tak kalah semangatnya.
            Napuran yang disimpan oleh nenek Rohaya memang memiliki sejarah yang panjang. Ia mendapatkannya dari Datu Nanialusan ketika  tubuh bagian kirinya tidak bisa digerakkan. Proses mendapatkan napuran itu juga tidak mudah, ayah nenek Rohaya harus mencari napuran yang jatuh tertelungkup di tanah dengan pangkal mengarah ke utara, dilanjutkan dengan ritual pemanggilan arwah namboru[6] Sinaidebang untuk memberikan kuasa pada napuran itu dalam menangkal Roh halus. Salah satu napuran ditaruh di atas pintu depan, satu di puro[7] si nenek dan satu lagi ia berikan kepada Hokkop untuk menjaganya dari guna-guna orang yang iri akan kepintarannya.  Dulu, semua orang Batak yang tinggal di Sianjur Mula mempercayai hal yang sama, tetapi setelah agama Kristen dan Islam diperkenalkan, maka hanya sebagian kecil saja yang masih menyimpannya. Nenek Rohaya juga pernah ingin membuang napuran itu. Dengan niat yang kuat ia pergi ke tepi Danau Toba, berdoa sebentar, lalu datanglah ombak besar yang menggagalkan rencananya. Nenek Rohaya percaya bahwa ombak tersebut adalah pertanda buruk baginya. Musim kemarau pun datang, angin kencang membuat nelayan tidak bisa bekerja, air sungai Tano Ponggol hampir kering hingga kapal tak bisa menyebrang lagi.
            Keesokan harinya, tepat sesudah adzan magrib dikumandangkan, rumah nenek Rohaya tiba-tiba begitu  ribut dan kacau. Hokkop yang dari tadi mondar mandir menunggu hasil UN tiba-tiba saja berteriak-teriak tidak jelas. HP Nokia dan radio tua yang ditaruh di atas meja dibanting sampai retak semuanya, kalau ia segera sadar kembali maka Hokkop pasti akan sangat menyesal. Nenek Rohaya yang berusaha menenangkannya juga dihardiknya, punggung si nenek yang sudah bengkok dipukulnya keras. Nenek yang hampir mati kesakitan itu menangis meraung-raung. Warga merasa iba.
 “Ada apa ini? Si  Hokkop kenapa?” tanya salah seorang warga
Nenek Rohaya tidak menjawab karena ia memang tidak tahu, entah karena Hokkop memang tidak mengatakan apa-apa sebelumnya atau karena ia yang sudah pikun. Nenek Rohaya mencoba mengingat-ingat percakapan mereka sebelumnya, saat mereka menikmati kopi hitam yang diracik sendiri dan diminum bersama nitak gurgur[8].
Pung, hasil UN akan keluar besok, tapi aku takut mengecek.” Kata Hokkop
            “Cek saja. Apa yang kamu takutkan? Ompung yakin kamu pasti lulus. Kamu kan pintar, lagipula kaliankan juga mendapatkan bantuan kunci jawaban UN dari sekolah?”
            “Aku tidak berani membuka kunci jawaban Pung karena ada polisi yang berjalan di dekat kelasku, lagipula aku mau mengerjakannya dengan kemampuanku sendiri. Tapi, bagaimana kalau aku tidak lulus Pung?” tanya Hokkop lagi tanpa menjawab pertanyaan si nenek
            “Kalau lulus, ompung akan coba ngutang dari Nai Inri, tantemu yang tinggal di Jakarta, supaya kamu bisa lanjut kuliah. Kalau dia tidak kasih, ompung rela marsinarea setiap hari di ladang kopi nai[9] Siska. Tapi, kalau tidak lulus, mau diapakan lagi. Bantulah ompung merawat kebun kopi kita yang di Pusuk Buhit. Tidak perlu khawatir, tanpa kuliah kamu masih bisa hidup layak, bahkan setiap hari natal kamu pasti bisa membeli baju baru sama seperti yang ompung lakukan selama ini.”
            Secepat nenek mengatakan pendapatnya itu, secepat itu pulalah ia melupakannya.  Kalau seseorang memintanya untuk menuturkan kembali kejadian itu, maka mungkin yang dia ceritakan hanyalah nitak gurgur yang mereka makan bersama. Itupun karena ada bopeng ditangannya karena andalu[10] yang tidak mulus dan sakit dipinggangnya karena harus menunduk selama satu jam.
            Sementara Nenek Rohaya berkelana dalam ingatannya, masyarakat semakin panik dengan keadaan Hokkop yang semakin menjadi-jadi.
            “Bukankah pak Tamba masih di rumah amani[11] Ros? Baiklah kita panggil dia saja.” Seru seorang warga yang langsung disetujui oleh nenek Rohaya.
Tidak sampai setengah jam, sampailah Pak Tamba di rumah nenek Rohaya. Kekacauan masih terus belanjut. Orang-orang segera memberi salam kepadanya, sambil membuka jalan. Meski tak ada yang memerintahkan, tapi salah seorang gadis segera datang menghampiri Pak Tamba sambil membawa segelas air putih dengan gelas terbaik.
            “Minum dulu pak. Bapak pasti lelah dalam perjalanan ke sini tadi.”
            “Terima kasih.”
Entahlah apa yang dipikirkan gadis itu. Jarak rumah amani Ros ke rumah nenek Rohaya hanya sekitar satu kilo meter. Pak Tamba pun sebenarnya datang dengan mobil, bukan dengan berjalan kaki. Mungkin inilah yang disebut dengan menghormati orang lain. Saat Pak Tamba yang datang, diberikan minum dan disambut dengan hangat, kalau pak Ros yang adalah tokke [12] kopi yang datang pasti disambut dengan senyuman. Sementara jika hanya warga biasa yang datang, tak seorang pun yang menyapanya.
Pak Tamba kemudian berdiri di depan Hokkop. Tanpa ada perintah, dua orang warga memegang Hokkop dengan erat, salah satunya adalah laki-laki yang terkenal sebagai pencuri ayam dan warga yang lain adalah seorang bapak dengan tubuh kekar yang pernah masuk penjara karena urusan perbatasan tanah. Pak Tamba mengeluarkan minyak dalam botol kaca kecil dari kantong jasnya, berdoa dengan khusuknya, lalu mengangkat botol itu sambil melafalkan beberapa ayat. Meskipun sebenarnya tidak ada warga yang benar-benar tahu kalimat yang keluar dari mulut pak Tamba, tetapi banyak yang beranggapan bahwa dia sedang melafalkan ayat-ayat Alkitab.
“Laki-laki ini dirasuki setan. Seorang pria yang mati muda sedang mengintainya menunggu hatinya kosong, lalu menyerbu bagai anjing kelaparan ingin melahap seluruh kesadaran Hokkop.” Kata Pak Tamba pasti.
“Astaga… Ini semua salahku” Kata Nenek Rohaya dengan mata nanar dan wajah pucat pasi, kemudian ia jatuh pingsan.
Beberapa orang mengangkat tubuh nenek Rohaya ke kamarnya yang kelihatan menyeramkan itu. Seluruh kamar diisi dengan perabotan tua, kaca lemari sudah pecah dan hanya sebagian kecil saja yang masih terletak disana. Dipannya sudah reok dan ada bolong di bagian tengahnya. Di meja kecil milik nenek Rohaya, terlihat napuran yang ditaruh di atas Alkitab. Napuran itu sudah layu, sudah lama disimpannya, dengan sedikit sentuhan saja mungkin napuran itu akan hancur.
Di bagian depan rumah, pak Tamba masih sibuk mengurapi Hokkop yang tak kunjung diam dan terus meronta-ronta. Pak Tamba terus melafalkan beberapa ayat tapi tidak ada yang berubah. Hanya sekarang sudah tidak seramai saat Pak Tamba tiba di sini, banyak warga yang sudah pulang dengan rasa kecewa. Pak Tamba pun sudah kehilangan akal dan tenaganya hampir habis. Tapi dia tidak mungkin pulang kalau Hokkop belum pulih. Ia menyadari bahwa ia sedang mempertaruhkan reputasinya.
“Ambilkan air dengan anggir[13] di dalam mangkok,” perintah Pak Tamba kepada gadis yang tadi memberikannya minum.
Pak Tamba meminum air perasan anggir itu, dikumur-kumur sebentar lalu disemburkan tepat di wajah Hokkop. Ia lantas kaget, marah, dan meronta-ronta. Begitu ia terlepas dari pegangan kedua pria besar itu, ia langsung menyerang pak Tamba. Refleks pak Tamba menendang Hokkop dengan sekuat tenaga, tepat di kemaluannya. Hokkop menangis sangat keras.
            Tangisan Hokkop menyadarkan Nenek Rohaya seakan rohnya kaget sekaligus khawatir mendengar suara cucunya yang amat disayanginya itu. Nenek Rohaya berlari menuju sumber suara. Ia melihat Hokkop tergeletak di lantai dengan posisi membungkuk. Mimik wajahnya menunjukkan kesakitan yang dia rasakan. Nenek Rohaya marah besar sehingga emosinya menjadi tidak terkendali.  Ia mencakar wajah pak Tamba hingga berdarah, celananya ditarik hingga jatuh sampai ke lututnya. Wajah pak Tamba merah padam menahan malu. Harga diri yang ia agung-agungkan selama ini jatuh di depan masyarakat. Pak Tamba berlari ke mobilnya dan memutuskan untuk meninggalkan rumah si nenek. Pak Tamba akhirnya mengurungkan niatnya untuk menjadi anggota DPR.
Keesokan harinya, tersiarlah kabar bahwa Hokkop tidak lulus UN. Ia memutuskan untuk merantau ke Jakarta dan tinggal bersama Nai Inri. Napuran yang selama ini ia percayai dibakarnya di dalam tungku saat memanaskan air minum. Sejak kejadian itu pula, nenek Rohaya sudah tidak percaya lagi pada tokoh-tokoh politik karena dianggap hanya mengumbar-umbar kepalsuan. Nenek Rohaya juga tidak mau telibat lagi dalam pemilu dan seringkali menghasut masyarakat yang lain untuk mengikuti jalan pikirannya.
 “Dari pada memilih orang yang tidak tepat, lebih baik saya golput saja. Golput bukan dosa.” Ceramah Nenek Rohaya kepada masyarakat yang sedang mengantri di TPU pada saat pemilu DPR.  



[1] Kampung halaman
[2] Bekerja di ladang milik orang lain
[3] Paggilan untuk nenek bagi masyarakat Batak Toba
[4] Daun sirih
[5] Hantu yang dapat dipelihara
[6] Bibi
[7] tempat menyimpan uang bagi ibu-ibu
[8] Makanan khas Batak yang terbuat dari beras
[9] Sebutan untuk wanita yang sudah menikah
[10] Alu
[11] Sebutan untuk laki-laki yang sudah menikah
[12] Sebutan untuk pengusaha
[13] Jeruk purut

Komentar

TA mengatakan…
Bagus, jalan ceritanya menarik

Postingan populer dari blog ini

Cerpen Keluarga

Learning Method: Concept Map