Cerpen Romantis

UJI COBA PACARAN
“Please Ca, aku hanya butuh kamu sekarang.” Oca hanya menatap sekilas pada sosok tinggi dan berambut ikal dihadapannnya, kemudian menatap kosong pada dinding kelas yang sudah kusam dengan cap telapak sepatu. Tidak ada alasan yang cukup kuat bagi Oca uuntuk menerima Rian sebagai kekasihnya.
 “Nggak papa kalo kamu memang belum cinta sama aku sekarang, cukup jadi pacarku aja Ca.”
Mulut Oca tetap terkatup sempurna, mimiknya juga nyaris sama sejak dia duduk di situ. Hanya saja, sekarang matanya sedikit lebih melotot dan dahi menyerngit.
“Aku akan buat kamu jatuh cinta sama aku, kalo kita udah pacaran.” Jelas Septian ketika ia menanggap raut muka heran yang ditunjukkan oleh gadis dengan predikar juara 1 umum itu. Oca ingin tertawa lepas, merasa tertantang untuk membuktikan apakah septian akan berhasil. Bagaimanapun juga, mungkin dirinya adalah satu-satunya gadis yang belum pernah pacaran di kelasnya. I have to try gumam gadis itu dalam hati.
“Gimana Ca?” sekarang tatapan mata di hadapannya terlihat seperti seorang anak kecil dengan kaleng kosong yang menengadah kepada orang kaya, berharap akan ada sekeping uang logam yang dilemparkan ke dalam kalengnya. Oca lantas menganggung secara refleks, ia merasakan sebuah kekuatan superpower yang telah meloloskan permintaan Septian. Cowok yang terkenal jago Kimia itu tersenyum bahagia dan entah mengapa Oca juga merasakan kehangatan yang sama, tetapi bukan karena cinta.
“Thank you Ca.”
“Untuk?”
Septian kalut dengan pertanyaan itu. Ia juga bingung mengapa ia harus berterima kasih.
                “Untuk kesempatan ini.” Jawab Septian seadanya sambil berdoa agar kekasih barunya itu tidak memberinya pertanyaan lanjutan. Rupanya nasibnya memang baik hari itu, Oca tidak mengatakan apa-apa dan hanya menunjukkan wajah datar.
                “Kamu cantik Ca.”
                “Hah?”  Berbeda dengan wanita pada umumnya, Oca hampir terlempar dengan pernyataan ini. Bukan berarti bahwa kecantikannya di bawah rata-rata. Ia memiliki wajah yang manis, putih, imut dengan badan yang mini dan tentu saja memiliki peluang besar untuk masuk dalam semi final jika sekolahnya mengadakan kontes kecantikan. Sayangnya, kontes konyol seperti itu tidak mungkin dilakukan, karena tidak memiliki esensi sama sekali, juga mempertimbangkan dana sekolah yang benar benar tipis sampai harus mewajibkan setiap siswanya membayar iuran sekolah.
                “Kok kamu kaget?”
Sekali lagi Oca ingin angkat bicara, tetapi rupanya kalimat pujaan itu telah menyihirnya menjadi seorang yang bisu. Septian menatapnya lekat untuk waktu yang cukup lama, sampai Oca meraih kembali kesadarannya.
                “Apaan sih? Ngelihatnya gitu banget.” Wajah Oca sinis
                “Emang gak bisa?”
                “Yah enggak lah. Apa untungnya coba?.”
                “Lupa kalo kamu itu cewek aku?”
Oca merasa risih dengan pembicaraan itu, segera saja ia membuka handphonenya, memasang wajah serius pada article pendidikan yang baru saja ia searching. Septian jadi tersisihkan. Mungkin perasaan inilah yang pernah dirasakan oleh Vigo dan Jason ketika tengah melakukan planning pendekatan pada Oca. Keduanya pernah menjadi penggemar masa lalu yang tidak pernah digubris oleh Oca. Vigo yang pertama mendekatinya waktu kelas 1 SMA. Awalnya ia berharap Oca akan melepaskan senyum terindahnya ketika melihat dirinya sampai harus bermain hujan untuk sampai kerumahnya pada malam ulang tahunnya. Tapi yang dia dapati waktu itu sangatlah berbeda.
                “Ngapain kesini?” tanya Oca sinis bahkan sebelum pintu rumahnya terbuka sempurna
Vigo sontak kaget, tapi ia mencoba untuk stay cool.
                “Selamat ulang tahun yang ke enam belas  Oca!”
Vigo begitu bersemangat kala itu, dengan riangnya ia mengeluarkan kue ulang tahun ukuran sedang yang masih terbungkus dalam kantong plastik biru yang sengaja ia sembunyikan sejak tadi. Dalam plastik itu ada juga kado mini yang ia isi dengan lukisan wajah Oca yang tengah tersenyum. Oca menyambar kedua benda itu secara bersamaan. Vigo merasakan ketidak sopanan yang dilakukan oleh Oca terhadap dirinya. Semua pakaiannya basah dan mungkin besok ia bisa saja terserang flu atau demam, resiko ini dia tanggung hanya untuk melihat gadis yang dicintainya bahagia. Ironisnya, Oca bahkan tidak mengajaknya masuk untuk sekadar berbasa-basi dan hanya mengambil kue dan kado itu secara paksa dari tangannya. Perasaan kesal dan kecewa jelas tersirat pada laki-laki bertubuh sport yang memiliki antrean wanita terpanjang yang ingin menjadi pacarnya.
                “Kenapa? Nggak ikhlas?” Kata Oca yang tetap tidak mengerti keadaan.
Vigo ingin mengamuk di sana, tetapi ia memilih untuk diam karena bagaimanapun misi pendekatan pada Oca sudah ia mulai hampir sepuluh bulan yang lalu, dan ia tidak ingin membuat semuanya kacau.
                “Eh, ini. Ambil ini. Aku nggak lagi butuh kue atau kado yah. Aku bisa beli kalo aku mau.”
Lelaki yang berusia setahun lebih tua dari oca itu merasa jiwanya bergemuruh, siap untuk meledak.
                “Ini.. ambil kalo berat ngasihnya.” Lanjut Oca
Spontan lelaki itu berbalik, dengan langkah cepat dan panjang ia segera merampas kedua benda itu dari tangan oca, berjalan menuju tong sampah, dan melemparkannya ke dalam dengan penuh amarah.
                Sejak kejadian itu, Vigo sangat membenci wanita itu, walaupun sebenarnya di dalam lubuk hatinya masih tersisa tempat yang cukup luas bagi wanita yang kelihatannya belum dewasa itu.
                Jason memiliki kisah yang berbeda pula. Ia awalnya hanya ingin mengetahui seberapa keras hati seorang gadis bernama Oca yang telah membuat sahabatnya Vigo menjadi sedemikian tersiksa. Ia mengerahkan segala kemampuan dan tampangnya yang cukup oke untuk menarik Oca ke dalam perangkapnya. Sayangnya kejadian sore itu benar-benar diluar kendalinya. Ia terjebak dalam perangkapnya sendiri.
                “Ca, ntar abis sekolah kamu sibuk gak?”
                “English course.” Jawab oca tanpa melihat sama sekali pada lawan bicaranya itu. Mata coklat miliknya tetap melotot pada buku Fisika kelas XI yang baru saja ia pinjam dari perpustakaan sekolah.
                “Sampai jam berapa?”
“tiga.”
“Abis itu?”
                “Belajar Biologi bareng Lulu?”
                “Abis itu?”
Oca mulai kehilangan kesabarannya. Kalau saja ia tidak melihat beberapa teman kelasnya berkeliaran di situ, mungkin ia akan membentak atau menampar laki-laki yang telah menyita break time nya.
                “Pulang, mandi, makan, belajar, tidur, bangun lagi, mandi…”
Nada suara Oca semakin lama semakin meninggi. Sebenarnya Jason juga merasa tidak nyaman dengan gadis itu. Tapi tetap saja ia mengurungkan niatnya, ia tak ingin memperlihatkan wajah aslinya sampai ia berhasil membuat gadis gila itu mati kutu.
                “Aku mau bilang sesuatu sama kamu.”
                “Yaudah bilang sekarang, masih ada dua menit lagi sebelum masuk kelas.”
                “Nanti aja yah, kita makan malam bareng.”
                “I don’t have time for nonsense thing.”
Jason merasa dipermalukan. Tapi ia membangkitkan keberanian dirinya. Refleks ia menutup buku yang ada ditangan Oca, memegang kedua tangan Oca yang ternyata sangat halus. Menatapnya lekat sampai membuat wajah gadis itu merah merona. Anehnya, Oca bahkan tak punya nyali untuk menarik tangannya. Jason mengamati wajah gadis yang menawan itu, lalu mendekatkan wajahnya pada gadis itu, membisikkan kata I love you dengan halus pada telinga gadis itu sebelum membenamkan bibirnya pada bibir merah muda milik Oca. Keduanya tetap bercumbu dalam waktu yang lama. Anehnya Jantung Jason berdetak sangat kencang, seakan-akan ia belum pernah berciuman sebelumnya. Padahal berciuman adalah hal rutin yang dia lakukan bersama mantan kekasihnya yang berpredikat paling stylish di sekolahnya. Tak sampai satu menit ia menyadari bahwa ia pasti sudah jatuh cinta pada gadis yang tidak punya sopan santun itu.
                Bel sekolah membangunkan mereka dari mimpi terindah yang sampai membuat mereka lupa waktu dan tempat itu.
                “Kurang ajar.” Oca mengumpat
Entah mengapa Vigo menjadi tidak enak hati melihat gadis itu, padahal inilah rencananya sebelumnya, membuat gadis itu merasa hina dan dirandahkan.
                “Maaf Ca, maaf…”
Oca tak lagi mau bertatapan dengan lelaki itu. Ia ingin marah, tetapi merasa malu. Jadi, ia memilih untuk segera berlari dan masuk ke dalam kelas. Demikianlah kisah yang telah membuat Oca, Vigo dan Jason tidak lagi pernah saling bicara, dan seakan-akan tidak pernah saling mengenal, walaupun sesungguhnya Vigo dan Jason masih sangat mencintai dirinya.
Untuk saat ini, Oca merasa bahwa pilihannya untuk pacaran dengan Septian adalah pilihan yang paling tepat untuk memastikan bahwa dirinya masih normal. Bisa mencintai dan layak dicintai. Inilah caranya untuk menghentikan nasihat dari temannya agar ia tak hanya focus untuk belajar, tetapi juga menimati masa SMA yang akan berakhir beberapa bulan lagi. Tetapi disisi lain, Oca sangat berharap bahwa uji coba pacaran ini akan membawa dirinya pada momen pacaran yang sesungguhnya. Septian juga punya visi yang sama, ia ingin menjadikan ceweknya menjadi wanita yang tidak egois dan mau berbagi waktu termasuk untuk dirinya. (len)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen Keluarga

Learning Method: Concept Map

Nenek Rohaya (Kritik Sosial berlatar budaya Batak)