Contoh Balada
Aku dalam
Versi Waktu
Sebuah
Balada oleh Lentaria Lumban Toruan
Allah memang tuan yang berdaulat atas
segalanya, tetapi waktu juga menjadi penguasa yang bisa melakukan apa saja.
Waktu membuatku bahagia, tertawa lepas, dan waktu pula yang membuatku menangis
dan terpuruk.
Dulu, di bulan April waktu telah membuatku
terhanyut dalam keindahan yang mempesona. April adalah waktu yang mengungkapkan
kebenaran bahwa aku bisa masuk ke dunia ini. Dunia yang memang ku dambakan.
Diterima di universitas yang penuh beasiswa, dengan penawaran yang membuatku
enggan berpikir bahkan untuk pertama kali.
Bulan Mei sampai Juli punya ceritanya
tersendiri. Aku suka bulan ini. Bulan yang memberiku waktu untuk mempersiapkan
segala sesuatu, waktu yang memberiku kesempatan untuk bermimpi. Di bulan ini,
aku merasa mmenjadi seorang yang akan hanyut lalu menghilang dari keluarga ku,
aku sedih, tetapi setidaknya aku pernah merasa menjadi objek dari perasaan
beberapa dari mereka yang khawatir akan kepergianku.
Bulan Agustus tak kalah menariknya. Bulan
yang sangat murah hati, memberiku kesan pertama memasuki pesawat, terbang ke
langit biru. Sayang, ternyata aku hanya melihat putih hitam awan yang membuatku
genting. Tetapi tak apa, aku tetap bahagia. Setidaknya aku sampai di sini, Pulau
jawa yang katanya paling menyenangkan dan mengerikan. Butuh berberapa saat
untuk memikirkan keadaan ini.
Bulan September sampai sekarang adalah
waktu yang panjang untuk membuktikan segala sesuatu. Aku bahagia untuk
nilai-nilai yang mencengangkan, mungkin tak layak bagi seorang anak desa yang
hina seperti ku. Tapi mereka mengakuinya. Dalam beberapa surat yang ku terima,
mereka jelals memujiku untuk pencapaian itu. Aku terbang, jauh sekali, hingga
aku bahkan menyentuh bintang-bintang itu, bahkan aku sempat mengulurkan tangan
ku dan mendapatkan sebuah batu berlian dari galaksi yang sangat indah.
Semakin aku bahagia, semakin aku terluka.
Semakin mereka memujiku, semakin aku mendapat caci maki. Semakin aku peduli,
semakin aku tak terlihat. Ada apa? Mengapa demikian? Bukankah ini tidak normal?
Tetapi apakah mereka tidak merasakan hal yang sama? Bagaimana mungkin semua
terlihat berbeda? Atau, mungkin kah kami berbeda? Dia tercipta untuk bahagia
dan aku utuk lebih merasa? Tapi, apa itu? Kitab ku yangaku percaya itu bilang
kami adalah sama. Fisik memang berbeda tapi tujuan dan esensi sama. Lalu, apa
yang salah?
Semakin aku bertanya, semakin aku
dipertanyakan. Aku bingung, tak kuat rasanya. Hatiku meleleh dan tumpah ke
dalam limbah busuk yang menyengat. Mereka ingin melenyapkannya, benar hal
menjijikkan ini berbahabahagia dan aku utuk lebih merasa? Tapi, apa itu? Kitab
ku yangaku percaya itu bilang kami adalah sama. Fisik memang berbeda tapi
tujuan dan esensi sama. Lalu, apa yang salah?
Semakin aku bertanya, semakin aku
dipertanyakan. Aku bingung, tak kuat rasanya. Hatiku meleleh dan tumpah ke
dalam limbah busuk yang menyengat. Mereka ingin melenyapkannya, benar hal
menjijikkan ini berbahaya. Tapi mereka tidak tahu hatiku di dalamnya. Aku
senang akan hal ini, setidaknya aku masih bisa menyembur senyum dalam
kepahitan, tapi ku rasa mereka tahu, lalu berpura-pura tidak tahu. Bukan karena
mereka tidak peduli, tetapi memang hal ini haruslah terjadi.
Aku menepi di malam pesta. Menulis
riwayatku di sini. Aku harap kalian tidak akan
mengerti akan apa yang terjadi. Kalaupun ada yang tahu, anggaplah semua
tak pernah terjadi. Waktu telah membuatku melangkah, dan menghentikanku sampai
di sini. Ini bukanlah fiksi yang mengangkat latar sesuai keinginan penulis,
tetapi waktu telah memperdayaku untuk memberi kesaksian tentang dirinya. Ini
bukanlah yang sebenarnya, tetapi aku adalah hasil percobaan waktu. Ku harap aku
tak pernah ada, karena aku tak akan mau bersanding dengan waktu.
Komentar